bp3kpancajaya

Blog Penyuluh Pertanian Panca Jaya

Strategi Melakukan Penyuluhan Pertanian Untuk Petani “Kecil”

Diperlukan strategi bagaimana melakukan penyuluhan? Perlu dipahami bahwa kegiatan penyuluhan tujuan akhirnya adalah menumbuhkan  ketangguhan petani sebagai pelaku utama  dalam  pembangunan  pertanian.  Untuk  itu  harus  kita  pahami terlebih  dahulu tentang siapa itu petani dan jalur apa yang harus digunakan untuk membina dan mengembangkan petani.

Masih banyak  para Penyuluh  Pertanian  yang kurang  memperhatikan  dan memahami tentang  pengertian  ”petani”  sehingga seringkali  pengertian  petani  diterjemahkan  ke dalam bahasa inggris menjadi farmer yang sebenarnya  sangat berbeda sekali dengan petani  yang  dalam  arti  peasant.  Farmer  adalah  gambaran  yang  diberikan  oleh  AT. Mosher (1984) yaitu petani yang berperan sebagai : juru tani, pengelola dan anggota masyrakat. Gambaran tersebut mengungkapkan bahwa farmer adalah petani pengusaha, yang menjalankan usaha pertanian sebagai suatu perusahaan, sehingga untung rugi senantiasa  menjadi  pertimbangan  di dalam  menjalankan  usahanya  dan  memproduksi hasil pertanian dengan orientasi pasar.

Hal tersebut berbeda jauh dengan pendapat Dr. Samsi Hariadi dari UGM Yogyakarta, ia melukiskan  peasent yaitu  petani  kecil sebagai  produsen  pertanian,  menguasai  lahan sempit  dengan  orientasi   produksi   untuk  mencukupi   kebutuhan   keluarga, bersifat subsistem.

Kita  maklumi  bersama  bahwa  sebagian  besar  petani  di Indonesia  merupakan  petani ”kecil”  yang  sebagian  besar  hasil  pertaniannya  untuk  memenuhi  kebutuhan  hidup keluarga atau subsisten, sehingga lebih sesuai disebut dengan ”peasant” akan mengedepankan  semboyan  ”safety first” atau dahulukan  selamat. Hal ini tentu saja petani kecil (peasant)  merupakan orang yang hidupnya  dalam kondisi  ”terendam  air sampai sebatas leher”, sehingga apabila ada sedikit goyangan ombak, maka dia akan tenggelam.

Dengan   demikian   orang   yang   sedang   terendam   air   sampai   sebatas   leher   yang diperkirakan hanyalah satu, yakini ”dahulukan selamat” yang penting selamat dahului. Studi tentang  kehidupan  petani kecil ini menjadi  lebih jelas, petani kecil lebih suka memilih meminimalkan resiko daripada memaksimalkan keuntungan, kecuali petani tersebut sudah berada di atas landasan substansi yang kokoh.

Dapat dipahami mengapa petani kecil ”peasant” lebih memilih berusaha tani tanaman pangan, rasionalitas mereka tidak mengijinkan tanaman komersial yang membahayakan substansi mereka,             kecuali             mereka             sudah terpenuhi kebutuhan–kebutuhan subsistensinya. Perkembangan teknologi baru, peralihan dari produksi subsisten ke produksi komersial hampir selalu memperbesar resiko. Sementara ini, petani senantiasa diarahkan menuju petani tangguh merupakan komponen pertanian tangguh.

Dengan  memahami  peengertian  type – type petani tersebut,  maka seorang  Penyuluh Pertanian diharapkan dapat mendiskripsikan  keberadaan petani di wilayah binaannya. Apakah binaan petaninya, termasuk peasant, farmer atau petani tangguh.

Hasil  dari  beberapa  penelitian  menunjukkan  bahwa  kebanyakan  petani  di  Indonesia adalah ”peasant” yang memiliki karakteristik khas. Peasant adalah petani kecil yang lahan pertaniannya sempit dengan hasil usahatani yang sebagian besar untuk keperluan keluarga, bersifat tradisional. Sedangkan, farmer adalah petani pengusaha yang menjalankan  usaha tani secara perusahaan,  dan biasanya  memiliki  lahan luas karena hasil pertaniannya untuk konsumsi pasar.

Oleh karena itu, peran seorang Penyuluh Pertanian adalah merubah ”peasant” menjadi ”farmer”, dari  petani  yang  orientasi hasilnya  unutuk  memenuhi  kebutuhan  hidup dirubah orientasi hasil untuk memperoleh  keuntungan  yang sebesar-besarnya. Berarti juga merubah moral petani ”safety first” menjadi ”profit oriented”.

Dalam era globalisasi dan revitalisasi sekarang ini, permasalahan yang dihadapi petani tidak hanya cara budidaya atau penanaman, tetapi juga bagaimana memanaj, bagaimana cara  menjual  hasil,  dimana  hasil  dapat  dijual  dan  bagaimana  pula  pangsa  pasarnya. Karena itu, sangat besar peranan Penyuluh Pertanian dalam mempersiapkan keberadaan petani kita menjadi petani tangguh. Penyuluhan tidak hanya budidaya saja, melainkan harus berorientasi agribisnis. Dengan demikian, tampak materi yang bermuatan sosial, ekonomi   dan   budaya   masyarakat.   Sementara   itu,   menurut   Sosrodiharjo   (1995) masyarakat tani sebenarnya sudah mengetahui ekonomi uang, tetapi belum menguasai bagaimana cara ”memutar” uang, artinya tidak mengerti cara-cara melakukan investasi modal karena ternyata uang sangat terbatas yang berada di desa. Dengan demikian permasalahan   perbankan   juga   merupakan   hasil   yang   perlu   disuluhkan   kepada masyarakat tani.

Jalur untuk Melakukan Penyuluhan

Penyuluhan Pertanian dalam melakukan penyuluhan pertanian harus kritis. Sikap kritis ini dimunculkan  dalam  bertindak  dan  bersikap  untuk  mendiskripsikan  bahwa  petani sebagai manusia, petani sebagai juru tani dan petani sebagai pengelola. Dari komponen ini secara rinci dapat diuraikan :

Petani sebagai Manusia

Memandang  petani  sebagai  manusia  dapat  ditelusuri  kedudukannya  selaku  pribadi, selaku anggota keluarga dan selaku anggota masyarakat.  Petani selaku pribadi selalu memiliki rasa, karsa dan cipta yang mendorong untuk berpikir, bercita-cita serta yang menuntutnya untuk selalu berusaha, bekerja dan berkreasi. Hal ini berguna untuk mempertahankan   dan   menjamin   kelangsungan   kehidupannya   serta   untuk   dapat mencapai tingkat kesejahteraan lahir dan batin yang dinilai lebih memuaskan.

Petani  sebagai  manusia  juga  adalah  sebagai  anggota  keluarganya.  Sebagai  kepala keluarga,  petani  merupakan  pemimpin atau  pengelola  (manager)  tatalaksana  rumah tangga.  Petani  mempunyai  kewajiban  dan  tanggung  jawab  untuk  mendukung setiap usaha guna memperbaiki  kesejahteraan  keluarganya,  sekaligus mempunyai  hak untuk menyampaikan keinginan-keinginannya.

Dalam hubungan ini, kegiatan penyuluhan pertanian perlu untuk selalu memperhatiakn ciri-ciri rumah tangga petani sebagai berikut :

  1. Usahatani adalah bagian salah satu cabang usaha didalam keluarga untuk memperoleh  pendapatan,  sehingga  kegiatan penyuluhan pertanian harus dipusatkan untuk menigkatkan  pendapat keluarga dan perluasan kesempatan kerja bagi keluarganya.
  2. Rumah tangga petani umumnya bersifat demokratis, artinya setiap tindakan yang dilakukan oleh anggota keluarga harus memperolehkesepakatan  dan persetujuan segenap anggota keluarga. Karena itu kegiatan penyuluhan pertanian harus disampiakan kepada segenap anggota keluarga, tidak hanya kepada petani selaku kepala keluarga saja. Petani sebagai manusia umumnya terikat pula oleh ikatan masyarakat lingkungan. Masyarakat merupakan sumber kesentosaan petani yang menolong dalam  menghadapi masalah-masalah kritis  dan membantu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan usahatani dan kerumahtanggan yang lain. Untuk itu setiap langkah kegiatan petani diperlukan persetujuan sosial terlebih dahulu, seperti tradisi, adat istiadat, agama, kepercayaan,  dan lain-lain. Dalam kegiatan pembinaan dan penyuluhan hal-hal tersebut tidak boleh diabaikan.

Petani sebagai Juru Tani

Petani sebagai juru tani berperan mangatur, melaksanakan, mengawasi dan memelihara tanaman, ternak maupun ikan agar memberikan manfaat yang lebih tinggi bagi dirinya sendiri,  keluarga  dan masyarakat.  Petani sebagai  juru tani memerlukan keterampilan fisik.Dengan  demikian  metode  penyuluhan  yang dipergunakan  dalam pengembangan pertanian  perlu memperhatiakn  kondisi petani tersebut,  misalnya dengan demonstrasi plot/farm, kursus-kursus, karyawisata dan sebagainya.

Petani sebagai Pengelola

Petani   selaku   pengelola   dalam   usahatani   sangat   memrlukan   keterampilan   dan kecerdasan  otak  untuk  memilih berbagai  alternatif pengambilan  keputusan  seperti menentukan  jenis  tanaman,  ternak  atau  ikan  yang  diusahakan. Keterampilan  petani sebagai  pengelola  mencakup  kegiatan  pikiran  atau otak, kesediaan  untuk mengambil keputusan, melaksankan keputusan dan bertanggung jawab atas keputusannya.  Selaku pengelola, petani punya rasa tanggung jawab penuh dan ingin dianggap mampu menghadapi tantangan. Disamping itu karena rasa harga diri maka sering kali tidak mau digurui oleh siapa pun, apalagi oleh kalangan yang tidak dikenalnya. Dengan demikian seorang Penyuluh Pertanian harus mampu menempatkan petani sebagai kawan sekerja dalam meningkatkan kesejahtteraan petani.

Upaya menumbuhkan   ketangguhan   petani    dapat    dicapai    melalui    peningkatan pengetahuan dan keterampilan, namun yang amat penting adalah merubah sikap mental ini mendasari tingkah laku. Pada akhirnya upaya penumbuhan  ketangguhan  petani ini akan berhasil dengan baik apabila  dibarengi  pula  dengan  peningkatan  kinerja  Penyuluh  Pertanian.  Peningkatan kerja yang jelas dan terukur serta terarah adalah kerja keras seorang Penyuluh Pertanian dalam membuktikan darmanya guna globalisasi yang sudah tak terbendung ini.

Karena  itu  dimasa  sekarang  dan  yang  akan  datang  tugas  Penyuluh  Pertanian  tidak ringan karena harus mampu merubah petani ”peasant” menjadi ”farmer” yang berjiwa wira  usaha.  Kondisi  sosiologis  masyarakat  pedesaan  seperti  pola  kehidupan  nyang sebagian  besar  ”peasant” interaksi  didalam  masyarakat  desa  dan  dengan  luar  desa, bahkan  dengan  pihak-pihak  luar  negeri  merupakan  kondisi  sosiologis  yang  harus dipahami Penyuluh Pertanian agar dapat mewujudkan petani tangguh di era globalisasi.

Ditulis Oleh: Warsana, S.P. (Penyuluh Pertanian di BPTP Jawa Tengah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: